Selasa, 10 Januari 2012

NgeBLOG lagi dengan suasana di tahun baru 2012

Lama rek, nggak ngeblog, karena laptob raib, komputer rusak dan sibuk hehehehe, "banyak banget alasannya". Tahun 2012 Enno media akan mulai lagi dengan berbagai informasi, dan siap menerima informasi apapun yang penting berguna untuk siapapun. Ada kabar bagus nie buat semuanya. Enno media sekarang membentuk Production house dengan nama RAJAWALI lengkapnya "Rajawali production house dan managemen artis lokal". Jadi buat yang pengen jadi artis untuk masuk di tv lokal atau nasional. Mungkin juga ada ivent yang bisa di kerjakan untuk on air tv, radio atau secara off air tanpa adanya keikutsertaan media kita juga bisa. Selain PH kita juga EO Larona Media Production, yang siap membantu untuk ivent apa aja dan percetakan yang siap untuk di cetak seperti buku, majalah sekolah dalan lain sebagaianya. Jadi nggak usah sungkan buat menghubungi kita di sini. Biar lebih ok ngobrolnya kita tunggu proposalnya secara email aja yaaa hehehe habis itu baru dech kita tuker no hp, setuju, saya yakin semua setuju hehehe asyek -asyek.

Selasa, 06 Oktober 2009

ವರ್ತವಾನ್ Tuming

Media adalah tempat yang paling ok untuk melakukan segala ekspresi bagi kaum journalism. Bnayak hal yang harus di lakukan dengan mengikut sertakan intuisi. Kadang kala kita bergerak sesui dengan teori yang kita dapat dari bangku sekolah. Namun setelah berjalannya waktu kaum journalism akan semakin pawai dalam melakukan tugas sebagai seorang journalis. Namun selama ini jujur saya belum pernah menemukan sosok journalism sejati di dalam diri karyawamn media. Apakah ini tandanya bahwa para journalis bisa dibeli dengan uang. Jawabannya cuma satu yaitu tergantung personal masing-masing.

Nama media semakin terpuruk ketika banyak sekali beberapa oknum yang mengaku dari media dan selalu menyodorkan tangannya. artinya wartawan tuming "tukang minta-minta". Hal inilah yang merusak image media.

Minggu, 18 Januari 2009

Cara Mempengaruhi Orang

Terjemahan bebas dari "6 Weapons of Influence" oleh:
Patricia Fripp, CSP, CPAE and David Palmer, Ph.D, CPA
Fripp Public Speaking School

Mengapa orang mengatakan "Ya"?

Karena mereka terpengaruh oleh lawan bicaranya. Dan dalam berbicara,
Anda akan sangat berkepentingan untuk mempengaruhi orang lain.

Anda ingin audience Anda mengatakan "ya".

David Palmer yang pakar pengembangan organisasi dan pemasaran
mengatakan, "Beruntunglah kita, karena orang cenderung mengatakan 'ya'
atau menyetujui sesuatu dalam banyak hal. Orang cenderung
mengatakannya tanpa banyak berpikir, karena kata itu bisa membuat
hidup mereka menjadi lebih sederhana dan lebih lunak pada diri mereka.
Apa yang menjadi masalah, adalah setiap orang yang terlanjur
memprogram dirinya untuk cenderung mengatakan 'tidak', tanpa
memikirkannya terlebih dahulu."

Enam tips berikut ini sangat efektif untuk mempengaruhi audience Anda.
Enam hal inilah yang bisa menjadi pemicu emosi audience, sebagaimana
disebutkan dalam buku Robert Cialdini "Influence, Science and
Practice" (Allyn & Cacon, 2000).

1. RESIPROKAL

Kita semua, seperti gambaran di atas, telah diajar sejak kecil untuk
membalas kebaikan orang dengan kebaikan pula. Setidaknya, kita diajar
untuk mengucapkan terimakasih hampir dalam segala hal. Dengan bekal
yang menjadi karakteristik rata-rata itu, maka hidup kita kini
dipenuhi dengan berbagai interaksi resiprokal (saling balas) yang
sangat positif.

Hidup adalah memberi dan menerima. Dan untuk menjadikan fenomena itu
tetap sebagai fenomena yang positif, kita semua dianjurkan untuk
menjadi pihak yang pertama dalam memberi. Dengan memberi, kita akan
menerima.

Hal yang sama juga berlaku untuk fenomena berbicara. Sampaikanlah apa-
apa yang bernilai positif untuk audience Anda, maka Anda akan
mendapatkan apa yang Anda inginkan sebagai pembicara. Mengapa? Karena
dagangan yang paling laris di dunia saat ini, adalah "informasi yang
berguna".

Bagaimana jika Anda tidak mendapatkan balasannya?

Di sinilah kegunaan dari rasa ikhlas bagi Anda. Berilah, dan
ikhlaslah. Setidaknya, apa yang Anda berikan bisa menjadi sedekah, dan
pastilah Anda akan mendapatkan balasannya "nanti" dan "di sana".

Jadilah pemberi, maka audience akan menyediakan diri.

2. KOMITMEN DAN KONSISTENSI

Setiap kali orang membuat pilihan, menentukan posisi, atau membuat
komitmen, mereka akan dikontrol secara internal dan sekaligus
eksternal, oleh keharusan untuk bersikap konsisten dengan pilihan dan
komitmennya tersebut.

Kata-kata Anda sebagai pembicara, sangat powerful untuk menciptakan
aspek kontrol itu. Untuk membuat audience menentukan posisi, membuat
pilihan, dan mengatakan "ya!".

Jika Anda sebagai pembicara bisa membuat audience berkomitmen dan
mengatakan "ya" secara verbal, maka kemungkinannya sangat besar bahwa
mereka memang benar-benar akan melakukannya.

Bangun komitmen dan konsistensi, Anda akan diikuti.

3. PEMBUKTIAN SOSIAL

Secara umum kita akan membenarkan sesuatu, jika kita mengetahui bahwa
orang lain juga membenarkannya. Lebih spesifik lagi, fenomena ini erat
sekali kaitannya dengan aspek perilaku manusia. Bahkan, jika ada
banyak sekali orang yang mengatakan "ya", maka kita cenderung untuk
beranggapan bahwa apa yang di-"ya"-kan itu adalah sesuatu yang benar
adanya. Apalagi, jika mereka adalah para influencer seperti orang
terkenal, tokoh panutan, orang yang berhasil dan sebagainya. Fenomena
ini akan menciptakan efek yang jauh lebih besar, dalam situasi yang
serba tak pasti.

Sebagai pembicara, Anda harus bisa mendapatkan legitimasi dan
referensi sebanyak-banyaknya. Pengaruh Anda akan makin besar dan makin
tumbuh. Jika Anda penjual, sampaikanlah referensi dari para pengguna
produk Anda. Jika Anda pembicara seminar, ceritakanlah berbagai hal
positif yang terjadi dalam seminar-seminar Anda. Jika Anda pemimpin,
ceritakanlah berbagai keberhasilan dari orang-orang yang Anda pimpin.

Ciptakan referensi, maka Anda akan menjadi preferensi.

4. RASA SUKA

Orang cenderung mengatakan "ya" pada orang yang disukainya. Jika isi
bicara Anda menuntut orang lain untuk mengatakan "ya", maka Anda harus
bertanya, "Apakah mereka menyukai pribadi Saya?" Untuk bisa disukai,
Anda harus bisa menyamakan banyak hal dengan mereka. Kesamaan adalah
sumber kesukaan. Kesukaan akan membuat mereka mengatakan "ya".

Trik yang ini sedikit nakal. Orang pada dasarnya senang dipuji. Maka,
banyak-banyaklah memuji orang. Mereka akan senang kepada Anda, mau
mendengarkan Anda dan akhirnya akan mengatakan "ya!".

Untuk bisa disukai, Anda juga harus sering-sering melakukan kontak
dengan mereka. Dalam bahasa bisnis ini namanya networking, dalam
bahasa agamis disebut silaturahim.

Jadilah orang yang disukai, maka Anda akan menjadi orang yang ingin
didengar dan bisa mempengaruhi.

5. OTORITAS

Otoritas bisa berarti realitas (sebagai pemimpin struktural) atau
implikasi (menjadi orang yang disegani). Otoritas akan mempengaruhi.

Masukkan aspek otoritas ke dalam sesi bicara Anda. Kutipkan kata-kata
orang besar dan terkenal, sampaikanlah apa yang disampaikan para
pemimpin, dan ungkapkanlah apa yang dicapai pebisnis yang memimpin.
Ini juga akan ikut membangun otoritas Anda.

Lebih dari itu, bangun otoritas Anda sendiri secara unik. Tampil dan
bertindaklah sebagai otoritas. Maka Anda akan mempengaruhi.

6. KELANGKAAN

Jadilah orang yang langka, Anda akan dicari orang dan bisa
mempengaruhi. Kelangkaan mencerminkan potensi untuk kehilangan.
Potensi kehilangan sesuatu lebih bisa memotivasi dari pada potensi
mendapatkan sesuatu. Jadilah diri Anda sendiri, karena hanya ada 1
Anda di dunia ini. Andalah yang paling langka. Dan logikanya, Andalah
yang semestinya paling bisa mempengaruhi.

Jumat, 16 Januari 2009

Mahasiswi Lelang Keperawanan, Sudah Ditawar Rp 40 Miliar Belum Dilepas


Pagi ini saya terkejut ketika membaca situs http://www.surya.co.id mengenai pemberitaan tentang seorang Mahasiswi melelang Keperawanan hanya untuk biaya kuliah. Kalau di pikir-pikir dengan akal sehat dan logika, begitu murahnya harga dari keperawanan seorang wanita. Hanya karena butuh uang harus rela menjual keperawanan. Data yang ku baca saat ini sudah ada yang menawar 40 milyar, namun keperawan belum dilepas. Sangat fantastik dan sunggu tak mengira orang mau keluar duit begitu banyak demi mendapatkan keperawanan, bahkan ketika keperawanan tidak begitu dihargai.

Apakah ini kekuatan dari uang atau hanya sekedar mencari sensasi. Tapi inilah fakta yang saat ini terjadi. Diera modern dan banyak orang mengaku berotak cerdas dan pintar ternyata uang tetap menjadi penguasa. Apakah ini berlaku juga bagi nafas kehidupan. Apakah ada yang tertarik untuk membeli umur seseorang??...Pertanyaan yang tidak masuk diakal dan mungkin terkesan "stupid". "Manusia begitu mudah diperbudak oleh uang dan kepopuleran". Sehingga harus rela melakukan apapun demi uang....uang....uang, dan uang.

I Love Menara FM Bali n Prestasi Anak Indonesia

Wah....cukup lama juga nggak posting blog. Setelah lihat kalender ternyata udah 3 Minggu fakum di blog. Its ok,karena banyak kesibukan yang membuatku jadi nggak sempat buat posting tulisan. yaaah, gimana lagi di kantor banyak kegiatan off air, memikirkan ide-ide cemerlang buat perusahaan, pokoknya banyak hal. Ternyata pusing juga kalo gawe di 2 tempat, meskipun yang satu tidak begitu terlalu menuntut banyak kerja, hanya ricek karyawan, edit tulisan, udah dech bahkan nggak harus dateng ke tempat kerja, asalkan semua ok dan waktu terbit nggak telat, beres dah.

Namun beda di media radio, dimana saya saat ini bekerja. Lagi butuh kosentrasi serius. Kebetulan lagi banyak agenda Off air serta memikirkan program-program baru. Mengingat sekarang lagi dalam tahap perubahan ke arah yang lebih baik. Inilah asiknya dan disinilah tantangannya. Tetap semangat, maju terus dan pantang untuk menyerah. "Hidup Menara FM Bali, dan Maju terus PRESTASI anak Indonesia". Sukses buat semuanya.

KIAT Enam Jurus Meliput Konflik

Delapan tahun paska tumbangnya Soeharto, konflik di tanah air masih tak padam. Mulai Aceh, Poso, Ambon sampai Papua, benturan terus berkobar. Mau tidak mau, jurnalis terseret ke garis depan. Bagaimana sih meliput konflik dan tak jadi korban?

SEJAK awal berdirinya, organisasi jurnalis sedunia, International Federation Journalist (IFJ), menaruh perhatian lebih pada keselamatan jurnalis yang meliput di daerah konflik. Karena itulah, berdasarkan rangkuman pengalaman jurnalis senior di berbagai media internasional, lembaga ini getol merilis panduan peliputan di daerah konflik, yang terus diperbarui sesuai perkembangan terkini.

Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah enam jurus peliputan di daerah konflik, berdasarkan pelatihan jurnalis sadar konflik yang diadakan IFJ di Sri Lanka. Negara di kaki anak benua India itu memang berpuluh tahun dikoyak konflik dengan gerilyawan Tamil.

Keenam jurus ini layak diperhatikan jurnalis di tanah air. Meski bisa jadi anatomi konflik di negeri kita berbeda, tapi pedoman umum ini bisa jadi kompas dalam melaporkan situasi berbahaya. Berikut keenam kiat itu:

Pertama, jurnalis harus mengerti konflik yang diliputnya. Dengan memahami apa yang menjadi akar masalah, maka jurnalis juga bisa mengerti dan menganalisa berbagai kemungkinan jalan keluar atas konflik itu.

Kedua, jurnalis harus membuat berita dengan berimbang. Untuk mencapai taraf imparsialitas yang optimal, jurnalis harus melaporkan segala sesuatu yang ada atau yang terjadi dalam peliputannya di daerah konflik, dengan jernih dan jelas.

Ketiga, jurnalis harus memberitakan atau melaporkan latar belakang dan semua kasus yang berkaitan dengan konflik itu, secara akurat. Tanpa kenal lelah, jurnalis harus terus mengingatkan masyarakat apa yang jadi pokok persoalan konflik. Ini jauh lebih penting daripada melulu menggambarkan efek negatif konflik tanpa gambaran penyelesaian, yang bisa jadi justru melanggengkan persoalan.

Keempat, jurnalis berkewajiban menggambarkan sisi kemanusiaan konflik. Ini bisa dilakukan misalnya dengan mengangkat cerita tentang trauma korban. Tapi, jangan sampai ada eksploitasi korban.

Kelima, jurnalis harus memberitakan usaha-usaha perdamaian sebagai jalan keluar konflik.
Keenam, jurnalis harus selalu berhati-hati menimbang dampak pemberitaannya dan pengaruhnya pada keselamatan jiwa mereka yang berada di daerah konflik.(kutip,www.geocities.com/ ajijakarta/juni/kiat.jpg)